Dialog antara Kepala Suku Kutub utara, Hutan dan Padang Pasir
Pernah tidak kamu berada dalam situasi dimana kamu harus berhadapan dengan orang yang pintar, tapi kamu sulit untuk menerima pemikiran dia karena apa yang dia pikirkan belum terbukti adalah apa yang dia lakukan?
Kalo di ibaratkan ada dialog antara kepala suku yang tinggal di Hutan, kepala suku yang tinggal di Kutub Utara dan yang tinggal di Padang Pasir. Katakanlah mereka sedang berdiskusi untuk membicarakan, bagaimana mencari makan yang paling cepat, enak dan kenyang (survivor).
Pada awalnya mungkin mereka akan saling bersopan-santun, saling mendengarkan pengalaman masing-masing selama berusaha untuk hidup di dunia yang keras dan penuh tekanan ini.
Suasana mulai memanas ketika salah satu pihak mulai mengajari pihak lain untuk bertahan hidup. Suku Kutub Utara, menilai cara yang dipakai oleh Suku Padang pasir, tidak efisien. Suku Hutan menilai mereka berdua bodoh, karena seharusnya dengan cara bersembunyi disemak-semak ketika berburu adalah cara terbaik. Sementara mereka berdua bingung, karena di Padang Pasir dan Kutub Utara mana ada semak2? Emangnya dia berpikir kalo di padang pasir ada pasir hisap dan di kutub utara ada permukaan es yang tipis yang bisa retak kapan saja?
Kalo dalam Disney, Ini sama persis seperti TARZAN mengajarkan ALADDIN untuk nangkep NEMO
Nah hal ini adalah symbol debat antara Pengusaha, Karyawan dan Seniman. Awalnya mereka baik-baik saja, saling bersopan santun. Namun ketika salah satu pihak sudah mulai mendominasi pembicaraan, bertindak seolah2 dia yang paling tahu segala2nya, disitulah terjadinya konflik.
Saya sebagai pengusaha, pernah bertemu dengan teman saya yang karyawan. Ketika berbicara, nampaknya seru sekali. Dia pintar, penuh dengan ide-ide cemerlang dan janji-janji muluk dalam mengembangkan usaha. Sampai terkesan seolah2 dia mengajarkan saya untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses.
Tapi ada satu hal yang masih nyangkut benak saya. Kalo emang benar apa kata dia, kenapa dia ngga jadi pengusaha saja? Jadi selama ini yang saya dengarkan hanya sebuah wacana dan teori saja, pelaksanaannya belum ada. Setelah itu timbul pertanyaan2 dibenak saya. Pernah ngga dia melihat sorot mata klien ketika lagi ngomel? Pernah ngga dia untuk merotasi uang menjadi uang yang lebih banyak lagi? Pernah ngga dia berjuang mati2an dalam rimba ketidak pastian? Pernah tidak dia dituntut untuk berinovasi atau bankrupt, dan cara2nya? Pernah tidak terpikir oleh dia untuk membuat suatu karya yang indah dan bisa digunakan oleh umat manusia?
Saya sebenarnya tidak butuh teori yang belum terbukti berguna ketika diaplikasikan ke lapangan, yang saya butuh adalah bukti konkret bahwa apa yang dia bilang sesuai dengan apa yang dia lakukan. Berhasil atau tidak, itu urusan lain.
Setelah mendengar panjang lebar omongan dia, nampaknya semua itu hanya sekedar omdo yang tidak ada action dan SOUL-nya. Mungkin yang dia tau, Cuma bangun pagi, dandan tidak sesuai kepribadian, ngantor untuk jilat pantat bos, demi promosi, terus pulang. Besoknya gitu lagi…gitu lagi…gitu lagi. Orang yang kayak gini, pengen menasehati orang lain? Oh my God!!
Sebagai orang yang penuh pertanyaan, wajar saja kalo saya konfirmasi statement teman saya yang karyawan tersebut ke teman saya yang seniman penduduk asli Negeri Kangguru sana. Saya bertanya ke dia sekedar hanya mencari pembenaran atas pemikiran saya sendiri. Tapi ternyata komentar dia diluar dugaan: Untuk apa dengar celoteh orang yang karya-nya tidak jelas apaan? Untuk apa dengar pembicaraan orang yang kerjaanya Cuma ngikuuuuuutttt…aja, kayak Yes-man saja. Hati-hati Jaman sekarang banyak orang pintar melakukan hal-hal bodoh, boss.
Kesamaan antara kita semua adalah kita sama2 Survivor dalam dunia yang penuh dengan cobaan, tekanan dan godaan ini. Mana yang paling kuat, paling gesit, paling pintar dan paling hoki akan bertahan hidup lebih lama daripada yang lemah. Oleh karena itu saya rasa, sebaiknya kita saling menghormati pilihan hidup orang lain, karena rejeki dan cobaan itu datangnya tidak pandang bulu dan bisa dating dari mana saja. Bisa saja, rejeki orang itu datangnya dari orang tuanya, kerja kerasnya, atau bahkan anaknya, demikian juga cobaan. Paling tidak dengan kita percaya Qadha dan Qadar, saya rasa sudah cukup, tanpa harus menggurui orang lain untuk sekedar mendapatkan pengakuan “kesan pintar”.
PENGUSAHA berkomentar:” Orang tersukses di dunia sudah terbukti mayoritas adalah PENGUSAHA!!!”,
SENIMAN membalas: “ Mau sukses dari usia muda, ya jadi SENIMAN!!”,
KARYAWAN tereak: “ Ngapain lo bedua mimpi, kalo mau gaji tetap yah jadi KARYAWAN. Hidup COMFORT ZONE!!”
PELAJAR nyeletuk: " Pusing amat lo semua! apa sih susahnya minta duit sama bokap-nyokap? terus weekend clubbing deh!
PENGANGGURAN nimbrung: "eh...eh..eh seru amat. lagi pada ngomongin apaan sih?"
Tanpa disadari....bangsa ini makin terpuruk aja.....capek deh.

Comments